Memasuki tahun baru kita disuguhi dengan kasus perampasan senjata di
Distrik Kulirik, Puncak Jaya, Papua. Beberapa media lokal melaporkan
bahwa kelompok bersenjata yang kemudian diduga anak buahnya Goliat
Tabuni ini merampas delapan pucuk senjata api yang ditinggalkan Polisi
di Pos mereka. TNP OPM juga menembak mati seorang warga sipil bernama
Muhammad Halil yang katanya berprofesi sebaga tukang ojek.
Mendengar
dan membaca berita itu, muncul beberapa komentar. Pertama, Kapolres
Puncak Jaya, AKBP Marcelis mengatakan bahwa pelakunya adalah kelompok
binaan[1].
Kedua, Ketua DPRP, Deer Tabuni, mempertanyakan 100
orang anggota TPN/OPM yang menurut Bupati Puncak Jaya telah turun gunung
dan telah disiapkan lapangan kerja sebagai Satpol PP. Ia menilai ini
adalah bentuk kekecewaan mereka (TPN-OPM) karena mereka ini yang selalu
bicara ideologi bukan untuk cari makan.
Komentar lainnya yang
menarik adalah "rakyat dijadikan proyek untuk mencari uang. Ketika tidak
ada masalah tidak ada uang, nanti ada masalah baru ada uang." [2]
Komentar ini memberitahukan kita bahwa: 1) Bupati Puncak Jaya melakukan
pembohongan publik tentang turunnya 100 orang anggota TNP/OPM itu; 2) di
Papua ada sebuah lakon yang dimainkan kelompok tertentu di mana rakyat
kecil selalu dijadikan obyek untuk mengisi pundi-pundi kosong mereka.
Ketiga,
ketua MRP, Timotius Murib, menilai ada keanehan dalam peristiwa ini.
Keanehan itu terlihat dengan polisi yang berpatroli tanpa membawa
senjata. Ia menilai bahwa ada unsur kesengajaan di sini. "Oknum Polisi
itu sengaja meninggalkan senjatanya, supaya berpindah ke tangan pelaku,
selanjutnya Polisi dapat mengejar terhadap pelaku-pelakunya."
Entah
dipengaruh miras sehingga tidak waspada atau tidak mereka tahu bahwa
daerah itu rawan konflik sehingga harus selalu dalam siaga, tapi anehnya
itu tidak terjadi.[3]
Keempat, Sekjen AMPTPI, Markus Haluk,
berpendapat bahwa TPN/OPM melakukan aksi ini untuk menunjukkan
eksistensi mereka sebab telah ada kabar sebelumnya bahwa 100 orang telah
turun gunung. Oleh sebab itu, Markus meminta supaya Bupati Puncak Jaya,
Hanock Ibo, meminta maaf kepada Goliat Tabuni dan Rakyat Papua.
Ia juga menyarankan supaya pemerintah membuka diri untuk dialog sebagai jalan damai dalam menyelesaikan konflik di Papua[4].
Dari semua komentar di atas yang mesti disoroti adalah pengakuan dari Kapolres Puncak Jaya.
Barangkali
ini pengakuan pertama dari pejabat negara/kepolisian bahwa pelakunya
kelompok binaan. Sebab; pertama, sepanjang ini jika ada peristiwa yang
sama (penembakan) yang selalu disampaikan oleh negara yakni kepolisian
bahwa pelakunya adalah kelompok sipil bersenjata, OTK, dll.
Kelompok-kelompok ini pun tak pernah dibuka identitasnya oleh aparat
keamanan, sehingga selalu mengambang.
Kedua, pengakuan ini
sebenarnya juga melegitimasi desas-desus yang lama berkembang dalam
masyarakat Papua bahwa ada kelompok binaan yang membuat Papua tidak
aman.
Jika itu kelompok binaan, siapa mereka? dan siapa bosnya? Ini perlu ditelusuri dan dibuktikan.
Namun,
dengan pengakuan ini kita tahu bahwa ada kelompok binaan di Puncak Jaya
dan barangkali di seluruh tanah Papua yang bisa dipakai kapan saja demi
kepentingan pihak-pihak tertentu. Termasuk semua penembakan di area PT
Freeport Indonesia yang terjadi selama ini yang pelakunya tidak pernah
diungkap.
Terlepas dari semua itu, tentu semua kita menginginkan
damai tercipta di tanah Papua. Itu terlihat dengan statement Papua Tanah
Damai, Kasih dan Damai itu Indah, dll, yang dikeluarkan dan dipajang
oleh semua unsur masyarakat, gereja dan penguasa di Tanah Papua.
Kita
bahkan telah disuguhi dengan kotbah-kotbah damai di masa raya Natal
tahun 2013. Tapi rupanya semua itu belum berwujud. Dalam realitas, kita
masih melihat ketidakdamaian. Perampasan senjata dan penembakan itu
terjadi lantaran belum ada damai dalam diri manusia. Sebab masih ada
sakit yang belum tersembuhkan yang berpengaruh ke situasi sosial. Damai
itu bisa tercipta tatkala inti persoalan dibereskan.
Damai tak
akan terjadi di Papua, jika masih terdengar bunyi letupan senjata. Jika
masih ada korban berjatuhan. Jika corong-corong demokrasi disumbat
dengan paksa. Jika pendekatan kesejahteraan masih menjadi prioritas
pemerintah dalam menyelesaikan konflik.
Jika masih ada praktek
kekerasan, stigma dan teror. Jika kepentingan pribadi dan kelompok
menjadi prioritas dibanding kepentingan umum atau rakyat. Jika rakyat
dipaksa untuk menerima pemekaran Kabupaten/Kota dan Provinsi yang bukan
keinginan luhur rakyat. Jika hanya doa yang terucap tanpa tindakan.
Ketika
TPN OPM beraksi atau rakyat berteriak di jalan, sesungguhnya mereka
mengingatkan kita bahwa masih ada proyek damai yang harus dikerjakan di
tahun ini.
Lalu bagaimana kita mengerjakannya?
Untuk
mencapai itu, TPN OPM, TNI POLRI dan kelompok binaan harus meletakkan
senjata. Pemerintah dan TNI/Polri harus menghentikan manuver politik
dengan pendekatan kesejahteraan dan pembangunan. Pemerintah Provinsi
mesti menghentikan Otsus Plusnya yang tidak direstui rakyat. Para
tahanan politik dibebaskan tanpa syarat.
Lalu semua duduk bersama
berdialog atau berunding satu meja. Tentunya, dengan menghadirkan pihak
ketiga yang netral seperti usulan rakyat Papua yang telah lama menjadi
korban.
Dalam keluarga, kotbah damai yang diterima di Natal 2013
mesti bisa didiskusikan lebih mendalam. Agar keluarga bisa menjadi agen
pembawa damai dalam konteks kita di tanah Papua.
Jika ini tidak
dilakukan, konflik tak akan berakhir. Darah akan terus tertumpah. Rakyat
akan terus protes dengan cara mereka. Keluarga-keluarga akan terus
berantakan dan terus saja dirundung kesedihan. Damai yang dirindukan
akan semakin menjauh. Maka yang akan tinggal hanyalah impian damai dan
kesejahteraan yang tak berwujudnyata. Semoga syaloom itu tiba segera
melalui small action kita!
[1] http://tabloidjubi.com/2014/01/06/pelaku-penyerangak-pos-polisi-kulirik-adalah-binaan-kata-kapolres-puncak-jaya/
[2] http://tabloidjubi.com/2014/01/06/ketua-dprp-jadi-opm-mana-yang-dulu-turun-gunung/
[3]
http://www.bintangpapua.com/index.php/lain-lain/k2-information/halaman-utama/item/11955-opm-rampas-senjata-murni-kelalaian-polri
[4] http://tabloidjubi.com/2014/01/07/markus-haluk-opm-rampas-senjata-tunjukan-eksistensi/
Naftali Edoway adalah Pemerhati masalah sospol di tanah Papua Barat.
Fiji, Kepulauan Solomon, dan Vanuatu keluarkan peringatan bagi warganya di
Timur Tengah
-
Jayapura, Jubi – Pemerintah Fiji, Kepulauan Solomon dan Vanuatu telah
mengeluarkan nasihat bagi warga negara mereka di Timur Tengah untuk tetap
tenang da...
3 jam yang lalu




0 komentar:
Posting Komentar